Cara Menentukan Jumlah dan Posisi Lampu Pada Suatu Bangunan

Posted: Februari 1, 2011 in Iptek

Perhitungan daya dipengaruhi beberapa faktor, seperti fungsi ruang ( untuk menentukan terang lampu ), jenis lampu ( mempengaruhi banyaknya cahaya yang dipancarkan ), dan jumlah armatur/ titik lampu ( agar distribusi cahaya lebih merata dan sesuai kebutuhan ). Daya listrik terpasang tak boleh melebihi angka maksimum yang ditentukan untuk setiap ruang.

Menurut SNI, daya pencahayaan maksimum untuk ruang kantor/ industri adalah 15 watt/ m2. Untuk rumah tak melebihi 10 watt/m2.( tambahan Ir. Hartono Poerbo, M.Arch : untuk toko 20-40 watt/m2, hotel 10-30 watt/m2, sekolah 15-30 watt/m2, rumah sakit 10-30 watt/m2 ). Coba terapkan perhitungan ini pada setiap ruang di rumah, kemudian jumlahkan dan dirata-rata. Misalnya, rumah anda berukuran 36 m2, maka jumlah daya untuk lampu harus di bawah 360 watt. Jika jumlahnya berlebih, sebaiknya kurangi titik lampu atau gunakan jenis lampu hemat energi.

( SNI adalah standar konservasi energi sistem pencahayaan pada bangunan yang dimaksudkan sebagai pedoman bagi semua pihak yang terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengelolaan bangunan untuk mencapai energi efesien. Standar ini dibuat oleh Badan Standarisasi Nasional ( BSN ) yang bekerja sama dengan instansi terkait. Standar kebutuhan terang untuk rumah tinggal juga tersedia sehingga bila anda membutuhkannya untuk keperluan desain, anda bisa mendapatkannya di kantor BSN, Senayan, Jakarta ).

10 jam hemat energi, solar dan batubara juga dihemat.

Jika kita menghemat daya sebesar 100 watt selama 10 jam, maka kita menghemat energi sebesar 1000 watt-jam atau 1 kWh. Ini artinya menghemat energi pada pembangkit listrik sebesar 10 kali lipat, yaitu 10 kWh. Energi sebesar ini setara 0,75 liter solar atau 1,5 kg batubara. ( Pekik Argo Dahono/ Kompas ).

Contoh perhitungan :

Luas ruang makan : 5 m x 4 m = 20 m2. Daya lampu : 3 buah ( titik lampu ) x 15 watt = 45 watt. Daya : luas ruang = 45 : 20 = 2, 25 watt/m2  ( memenuhi syarat ).

Menentukan posisi lampu.

Anatomi lampu pijar, atau bohlam. Kawatnya akan putus setelah sekian ratus kali pemakaian. Sekitar 3 bulan.

Menghitung kebutuhan cahaya dalam ruangan memang tidak mudah. Untuk menentukan secara akurat, biasanya dilakukan oleh para profesional di bidang perlampuan. Namun, tak ada salahnya jika anda mengerti sedikit mengenai prinsip penentuan titik lampu. Perhitungan ini gunanya agar lampu yang digunakan jumlahnya pas dengan kebutuhan. Jika kurang atau berlebihan, selain boros, juga menyebabkan ketidaknyamanan di mata. Contoh berikut menggunakan downlight yang memiliki sudut cahaya 30°.

Hitung ketinggian plafon dan tinggi bidang kerja dari atas lantai. Misalnya, tinggi plafon 3 meter dan bidang kerja 80 cm. Yang dimaksud dengan bidang kerja adalah area yang paling banyak digunakan untuk berkegiatan di ruang tsb. Di ruang kerja, misalnya, kegiatan menulis dan membaca di atas meja, adalah yang paling sering dilakukan. Ketinggian meja tsb, nantinya menjadi patokan tinggi bidang kerja. Setelah itu dengan rumus Pythagoras anda bisa menghitung jarak antar titik lampu di ruang tsb.

Lumen adalah jumlah cahaya yang dihasilkan sebuah lampu. Lumen dipakai sebagai satuan kuat/ terang cahaya. Jarak antara permukaan meja dengan armatur lampu gantung tidak lebih dari 75 cm. Jarak yang lebih besar menyebabkan panas yang dikeluarkan lampu akan terasa saat orang akan berdiri. Jarak ideal antara titik penerangan lampu ( di plafon ) dengan lantai adalah 2,5 meter. Di ketinggian manapun lampu diletakkan, usahakan agar jarak ini terpenuhi, supaya terang lampu yang diterima ruang tidak berkurang.

Menghitung jumlah lampu & daya listrik

  • Arus cahaya disimbolkan Ø, satuannya lumen, rumusnya Ø = I x watt.
  • Kuat cahaya disimbolkan I, satuannya candle, rumusnya I = Ø watt
  • Kuat penerangan disimbolkan E, satuannya lux, rumusan E = Ø : A
  • A adalah luas bidang kerja. Ø = E x A. Untuk kantor 200-500. Untuk rumah 75 – 250.

Untuk sistem penerangan langsung dengan warna plafon dan dinding terang, CU ( coeffesien of utilization ) –nya 50-65 %. Light loss factor ( LLF ) = 0,7-0,8. LLF tergantung ; kebersihan sumber cahaya, tipe kap lampu, penyusutan cahaya dari permukaan lampu, dll.

Rumus menghitung jumlah lampu :

Jumlah lampu ( N ) = kuat penerangan ( E ) x luas bidang kerja ( A )  dibagi  Ø lumen lampu x LLF x CU

Contoh perhitungan : ruangan kantor berukuran 20 x 10 x 3 m direncanakan memakai TL 4 x 40 watt dengan penerangan E = 300 lux. Hitung, jumlah lampu dan daya listrik yang dibutuhkan.

Penyelesaian : dari tabel,

Untuk 1 bh TL 40 watt, jumlah lumen = 40 x 75 = 3000 lumen. Untuk 4 TL 40 watt, jumlah lumen = 4 x 3000 = 12.000 lumen.

Dipilih CU 60 % dan LLF 0,8

Jumlah lampu yang dibutuhkan ( N ) = E x A  dibagi  lampu x CU x LLF  =       300 x 200 dibagi 12000 x 0,6 x 0,8  =  10,4

Jadi N = 11 buah 4 x TL 40 watt. Pemakaian watt untuk lampu TL 40 watt termasuk ballast = 50 watt. Jumlah beban dari lampu = 11 x 4 x 50 watt = 2200 watt. Untuk stop kontak peralatan kantor diperhitungkan 20 % dari beban lampu = 20 % x 2200 watt = 440 watt. Total kebutuhan watt = 2640 watt, atau watt/m2 = 13, 4. Untuk perumahan, jumlah stop kontak diperhitungkan masing2 satu buah @ 100 watt pada kamar tidur, ruang tamu dan dapur. Daya cadangan listrik ( generator set diesel ) harus dapat melayani emergency load. Rumusnya :

Cavity Ratio ( CR ) = 2,5 x area of cavity wall dibagi area of work plane

Tagihan listrik dari mana ?

Pilih bohlam atau neon ? CFL bisa mengurangi tagihan listrik. Apalagi jika tak lupa mematikan lampu setelah selesai menggunakan ruangan. Memang harga awal lebih mahal, tapi jika awet dan konsumsi listriknya lebih rendah, kita bisa berhemat berkali-kali lipat.

Perhitungan rekening listrik dari PLN dilakukan melalui besar pemakaian kWH atau stand meter ( awal – akhir, dalam satuan kWH ). Penggolongan tarif didasarkan besar kebutuhan daya, mulai skala rumah tangga, sampai industri besar. Simulasi rekening bisa diakses di situs www.pln.co.id.

Di situs ini, kita dapat menghitung biaya tagihan, berapa biaya pasang baru atau mengubah daya listrik. R1 ( 900, 1300 ) dikategorikan rumah tangga kecil, bea beban dibagi atas blok2. R2 ( 3500 ) dikategorikan rumah tangga menengah, bea beban tidak dibagi blok konstan dengan nilai yang lebih tinggi. ( Serial Rumah ).

Tambahan : Untuk saat ini sudah ada software khusus untuk menghitung dan merencanakan kebutuhan lampu pada suatu bangunan. Nama programnya adalah Dialux. Silahkan download programnya DISINI

Source : anisavitri

About these ads
Komentar
  1. zoel mengatakan:

    mas sya mao nanyak, hasil perhitungan jumlh titik lampu,21.01 apa kta genap kn menjadi 22 titik? Atau kta kurangin menjdi 20? Mhon jwb.trmksh

  2. antya putri mengatakan:

    saya mau tanya mas. itu untuk lampu TL supaya bisa tau lumennya kan dihitung dari watt lampu x 75. kalau misalnya jenis lampu yang lain seperti LED, apa juga dikali 75 atau ada ketentuan khususnya?
    terima kasih

  3. fauzan mengatakan:

    mas dapet efisiensi armatur itu dari mana ya ?
    ane boleh minta tabelnya lengkapnya gak ?
    buat tugas akhir nih mas..

  4. dimas mengatakan:

    Bas thenks baget atas informasinya. tak tau saya mau bilang apa karena apa yg saya tidak tahu semua sudah di tanya sama teman2 dan sudah di jawab dengan mas hendrabudianto. Semoga bermanfaat buat teman2 yang lain.

  5. bangkit nurwijayanto mengatakan:

    untuk lampu TL UV bertuliskan 40W bisa dipakai di ballast bertuliskan 2x36w ga?

  6. jeff mengatakan:

    Blog yang sangat bermutu..Desain blog nya mantap ..isi nya berbobot
    salam kenal

  7. alfonso mengatakan:

    mantap

  8. ageng mengatakan:

    mas hendra mau tanya yg contoh gedung dengan lampu 100 buah dan daya 100watt
    pada perhitungan 12.500 / 220 / 3
    kenapa harus di bagi 3???

  9. Liston mengatakan:

    Hitungan dengan tinggi plafon 3 meter kok ga ada pak dari perhitungan nya ??

    • hendrabudianto mengatakan:

      hitungan tinggi plafond 3 mtr itu maksudnya adalah tinggi standar plafond utk bangunan perumahan. namun dalam perhitungan tidak perlu dipakai karena yang ingin kita cari adalah A (Luas Bidang Kerja) dengan satuan m2. Jadi cukup Panjang x Lebar Ruangannya saja yg kita perhitungkan. Pada contoh di atas, yg kita hitung adalah A = 20 x 10 = 200. terima kasih

  10. Liston mengatakan:

    Gan,…dari contoh perhitungan tadi ada ketinggian ceiling 3 mter, kok dalam perhitungan yg tinggi 3 meter tidak ada dalam calculasi jumlah titik lampu ????

  11. nurul ihsan mengatakan:

    mas minta tlong gmn perhitungan kebutuhan lampu sorot stadion, dengan data kuat cahaya yg diperlukan 1000lux, akan memakai lanpu sorot 2000watt metal halide light system dngn ketinggian 35 meter. jarak lampu dngn titik tengah stadion 75 meter berapa lampu yg dibutuhkan. terima kasih.

    • hendrabudianto mengatakan:

      datanya kurang lengkap mas utk dpt menentukan jumlah lampu yg mas tanyakan, karena saya perlu luas dari lapangan tersebut dan besarnya lumen dari lampu sorot tersebut berapa lumen mas. terima kasih

  12. Erry Agung mengatakan:

    Gan … Boleh tanya… buat jawaban dari mas Hendra… dari jawaban itu saya melihat perhitungan untuk 1 phase nah seumpamannya bila 3 phase gimana, misal : sebuah kantor memasang lampu 100 W dengan jumlah kira2 250 bh lampu dan ingin dibagi menjadi 3 grup phase. pertnyaannya bagaimana perhitungan dan konversi dari Watt ke VA untuk 3 phase.

    • hendrabudianto mengatakan:

      begini mas erry utk 1 fase maupun 3 fase, proses konversi dari watt ke VA-nya tetap sama jika menggunakan cara mudah yaitu Jumlah Watt dibagi dgn 0.8 ( VA = W / 0.8).kemudian utk contoh kasus di atas, total dayanya adalah 100 W x 250 = 25.000 W, lalu kita konversi ke VA menjadi 25.000 / 0.8 = 31.250 VA. Dari total VA tersebut kita bagi 3 sehingga masing fase (R,S dan T) kira2 total bebannya adalah 31.250 / 3 = 10.417 VA. tapi tetap total kebutuhan daya keseluruhannya adalah 31.250 VA. mudah2an cukup jelas ya mas erry. terima kasih

  13. Sandi mengatakan:

    Mas, saya mo tanya soal penghitungan jumlah lampu dalam ruangan yang tertulis di atas. Pada tulisan di atas disebutkan bahwa ruangan direncanakan memakai 4 buah TL 40W. Mengapa angka ini yang dijadikan sebagai pembagi penentuan jumlah lampu (12,000 lumen)? Bukannya untuk menentukan jumlah titik lampu dibagi lumen 1 lampu TL 40W saja (3,000 lumen)? Mohon dijelaskan, sebab saya masih awam untuk penghitungan ini. Terima kasih

    • hendrabudianto mengatakan:

      terima kasih atas pertanyaannya mas sandi. dari contoh diatas, kenapa yg dipakai utk acuan perhitungannya adalah 12.000 lumen, bukan 3.000 lumen. karena jenis lampu yg akan dipasang pun adalah jenis lampu 4 x 36 W, bukan 1 x 36 W. karena jenis lampu TL bermacam-macam dari yg 1 x 36 W, 2 x 36 W sampai dengan 4 x 36 W. mudah2an penjelasan saya cukup jelas ya mas.

  14. alli mengatakan:

    kalauu menghitung
    Fluk, indek,lumen
    Gmana

  15. Nandine mengatakan:

    Makasi Infonya. Kalau dulu lampu dirumah dengan dudukan biasa, sehingga lampu CFL nya menonjol keluar dan dalam 1 ruangan biasanya cma terdapat 1 titik lampu , kalau sekarang saya lihat kebanyakan lampu-lampu CFL dipasangan menjorok masuk di plafond (saya lupa namanya kalo ngak salah “downlight”ya?). Untuk 1 ruangan misal 3×3 atau 4×4 biasanya berapa jumlah lampu downlightnya? Terima Kasih sebelumnya.

    • hendrabudianto mengatakan:

      sama2 mba nandine. utk jumlah lampu yg dibutuhkan pd ruangan 3×3 atau 4×4 tergantung kebutuhan, selera dan peruntukkan dari ruangan tersebut. dan biasanya berkisar antara 1 sampai 4 buah lampu.

  16. merdana mengatakan:

    ada yang tau ato punya software tentang menentukan jumlah titik lampu yang diperlukan dalam gedung/ ruangan ga??

  17. hendra mengatakan:

    kalo menghitung nilai MCBnya gmana yah…

    • hendrabudianto mengatakan:

      buat mas hendra berikut saya beri contoh perhitungannya : misal dlm suatu gedung ada 100 buah lampu dengan daya masing2 lampu adl. 100 watt. maka total daya gedung tsb adl. 100 x 100 = 10.000 watt. kemudian kita konversikan ke dalam satuan VA (volt ampere) dgn cara dibagi 0.8 sehingga 10.000 / 0.8 = 12.500 VA. kemudian hasilnya kita bagi 220 lalu kita bagi lagi dgn 3 sehingga 12.500 / 220 / 3 = 18.9 Ampere. hasil tersebut kita cocokan dgn kapasitas MCB yg ada dipasaran lalu kita naikkan 2 tingkat diatasnya utk safety. dari hasil tsb diatas dgn melihat kapasitas MCB yg ada dipasaran, maka kapasitas MCB yg digunakan adalah ukuran 20 A lalu dinaikkan 2 tingkat sehingga kita pilih MCB dg kapasitas 32 A. Tambahan : kapasitas MCB yg ada di pasaran adl. 2, 4, 6, 10, 16, 20, 25, 32, 40 A. semoga jawaban tersebut dapat membantu mas hendra.

  18. mano mengatakan:

    dari STM gw juga udah tau dhoy!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s