Cerita Si Penjual Bakso

Posted: Agustus 26, 2011 in Religi
Tag:, ,

…Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik – rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso ? “Mauuuuuuuuu. .”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini. “Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu pisahkan ? Barangkali ada tujuan ? Iya pak, memang  sengaja saya  memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun.

Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita cita penyempurnaan iman seorang muslim  “.

“Maksudnya.. .?”, saya melanjutkan bertanya. “Iya Pak, kan agama dan islam  menganjurkan kita agar bisa berbagi Dengan sesama. Sengaja saya  membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut:

1.  Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari – hari untuk  keluarga.

2.  Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya  selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3.  Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami  sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya  dan istri akan melaksanakan ibadah haji.Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu.

Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu..? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

Ia menjawab, ” Itulah sebabnya Pak,  justru  kami malu kpd Tuhan kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat ..?

Menurut saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri ebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok  .

“Masya Allah…, sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”.

Sahabat….Cerita ini sangat sederhana. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita.  Amin………………………………. Dalam hadits Qudsi

“Sesungguhnya Allah berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku dan

Aku akan senantiasa menyertainya apabila berdoa kepada-Ku”

(HR Bukhari Muslim)

Source : https://www.facebook.com/profile.php?id=1799418903

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s