Kisah Pahitnya Si Buah Maja

Posted: Januari 15, 2012 in Dongeng & Cerita Anak, For Your Kid
Tag:, , , ,

 

Pahitnya si Buah Maja

Konon, buah maja ini yang menginspirasi nama kerajaan besar Majapahit, kerajaan besar di Jawa.

Nah, di Sumba pohon maja ini juga ada banyaaak sekali. Aku mendengar kisahnya dari seekor burung kecil.

Alkisah ada sebutir benih mungil di tanah yang tidak terlalu subur. Namanya benih Maja.

Kasihan sekali Si Maja, ia bagaikan terperangkap dan kelaparan di tanah yang kering.Maja kecil itu menangis diam-diam.

Sedih sekali hatinya harus menderita seperti itu. Karena lemas tanpa makanan yang cukup, ia merasa sangat mengantuk. Matanya sudah hampir terpejam. Namun, tiba-tiba suatu suara menyapanya.

“Jangan tertidur, benih kecil. Ayo berusaha lagi serap makanan di sini. Memang cuma sedikit, sih, tapi berusahalah,” ujar Bibi Ubi.

“Negeri di atas tanah indah sekali, lo. Kalau kamu bisa bertahan, kamu bisa melihat langit yang biru, dedaunan hijau, udara segar, pelangi,” tambahnya lagi.

“Ah, dan suara burung itu begitu merdu, Nak. Kakek suka sekali mendengarnya,” ucap Kakek Wortel dari sebelah kirinya.

“Lalu saat nanti kau sudah berbuah, manusia akan memakan buahmu dan memuji rasanya. Wuah… kalau itu terjadi, aku senang sekali! Aku merasa perjuanganku untuk tumbuh besar tidak sia-sia.

Kita beri makan manusia dan manusia yang bebas bergerak dan punya akal akan membantu merawat kita, langit, dedaunan, dan semua hal cantik di bumi,” lanjut Paman Jagung.

Langit? Daun? Pelangi? Burung? Manusia? Maja tidak pernah mendengar soal itu. Bibi Ubi, Kakek Wortel, dan Paman Jagung dengan sabar menerangkan kepadanya.

Tuan Cacing yang baik hati juga mampir dan membantu sedikit menggemburkan tanah di sekitar benih kecil itu, membuat ia bisa bernafas lebih lega. Ah, semua itu membuat Maja bertekad untuk terus tumbuh dan tumbuh.

Namun, betapa susahnya! Alam tahun itu amat tidak bersahabat. Musim hujan itu hawanya dingiiiiin sekali. Tuan

Pahitnya si Buah Maja

Cacing tidak pernah lagi berkunjung. Ia meringkuk di dalam lubangnya.

Paman Jagung, Bibi Ubi, dan Kakek Wortel berusaha bertahan, tetapi akhirnya mereka pun menghembuskan nafas terakhir.

Mereka berpesan kepada Maja untuk terus bertahan.
Maka Maja kecil harus bertahan sendirian dalam kesepian.

Akhirnya musim hujan berhenti. Maja senang sekali mendapati dirinya mulai bertunas. Lalu, musim panas tiba, tetapi ooh… hawanya panaaaas sekali.

Tanah di sekitar benih mungil itu tidak subur sama sekali. Kering, meranggas, meretak, dan seperti berkapur. Namun, Maja terus berusaha bertahan.

Diaturnya pasokan makanan yang hanya sedikit itu agar tunasnya bisa bertahan hidup dan bertumbuh tinggi dan tinggi menembus tanah.

Saat akhirnya Maja menembus tanah, semilir angin membelainya. Dunia memang seindah yang diceritakan teman-temannya dulu. Langit indah membiru. Awan putih menggumpal. Dan cahaya keemasan matahari meneranginya. Tanpa terasa air matanya menetes penuh haru.

“Piap piap…” Seekor burung kecil hinggap dan berkicau di sampingnya. Maja itu merasa hatinya hangat. Ia dan burung kecil itu segera bersahabat. Hari itu semuanya begitu indah dan menyenangkan.

Akhirnya, tahun-tahun berlalu, iklim-iklim sulit berhasil dilaluinya. Tiba-tiba didapatinya dirinya mulai berbuah!

Maja kecil yang kini sudah besar itu semakin giat menyalurkan makanan ke buahnya.  Ia sangat berharap buahnya yang manis akan disukai manusia dan memberi kekuatan kepada mereka untuk menjaga bumi.

Namun, huhuhu… sedihnya… ia mendengar orang-orang menyebutnya Majapahit. Kabarnya karena salah satu prajurit Majapahit memakan buah maja dan bilang kalau rasa buah maja itu pahit!

Betapa inginnya ia berteriak kepada mereka bahwa prajurit itu memakan buah maja yang belum masak. Betapa inginnya ia menunjukkan kepada mereka bahwa buahnya manis.

Walaupun pahit perjuangannya untuk menumbuhkan buah, tetapi buahnya yang sudah masak beraroma harum dan airnya manis.

Burung kecil sahabatnya menenangkan si buah maja. Dia berjanji akan terbang ke seluruh dunia, memberitakan bahwa biarpun terlanjur dicap pahit, buah maja itu sebetulnya manis.

Dan kalau ia mati, keturunannya akan terus mengabarkan berita manisnya buah maja. Ya, itulah yang diceritakan cucu buyut burung kecil itu kepadaku pada suatu sore. Karena itu kutuliskan cerita ini agar kau tahu cerita perjuangan buah maja.

Betapa kuatnya ia, betapa ia tahan pada cuaca ekstrem, dan betapa perjuangan pahitnya telah berbuah manis.

Iklan
Komentar
  1. budi logam berkata:

    ya uda …… sang buah maja,,,, kamu aku gunakan kamu untuk melarutkan logam emas yaaaa,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s